ERA PERTANIAN MODERN

Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan eketernal berupa bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida), menimbulkan kekhawatiran berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sedangkan pertanian tradisional yang bertumpu pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal menimbulkan kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian, jauh di bawah kebutuhan manusia.
Dunia pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas.
Keberhasilan diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan.
Semakin banyak, semakin dianggap maju. Di Indonesia, penggunaan pupuk
dan pestisida kimia merupakan bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek
ambisius Orde Baru untuk memacu hasil produksi pertanian dengan
menggunakan teknologi modern, yang dimulai sejak tahun 1970-an.
Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan eketernal berupa
bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida), menimbulkan kekhawatiran
berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sedangkan pertanian
tradisional yang bertumpu pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal
menimbulkan kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian,
jauh di bawah kebutuhan manusia. Kedua hal ini yang dilematis dan hal
ini telah membawa manusia kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan
penggunaan masukan dari luar sistem pertanian itu, namun tidak
mebahayakan kehidupan manusia dan lingkungannya (Mugnisjah, 2001).
Pertanian modern dikhawatirkan memberikan dampak pencemaran sehingga
membahayakan kelestarian lingkungan, hal ini dipandang sebagai suatu
krisis pertanian modern.
Sebagai alternatif penanggulangan krisis pertanian modern adalah
penerapan pertanian organik. Kegunaan budidaya organik menurut Sutanto
(2002) adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang
ditimbulkan oleh budidaya kimiawi. Pemanfaatan pupuk organik mempunyai
keunggulan nyata dibanding dengan pupuk kimia. Pupuk organik dengan
sendirinya merupakan keluaran setiap budidaya pertanian, sehingga
merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan
cuma-cuma. Pupuk organik berdaya amliorasi ganda dengan bermacam-macam
proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus
menkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan
kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan demikian penerapan
sistem pertanian organik pada gilirannya akan menciptakan pertanian yang
berkelanjutan.
Nenek moyang memanfaatkan pupuk hijau dan kandang untuk menjaga
kesuburan tanah, membiakkan benih sendiri, menjaga keseimbangan alam
hayati dengan larangan adat. Mereka mempunyai sistem organisasi sosial
yang sangat menjaga keselarasan, seperti organisasi Subak di Bali dan
Lumbung Desa di pedesaan Jawa.
Apa yang dikembangkan oleh para ilmuwan telah membedakan mana yang
maju dan terbelakang, modern dan tradisional, serta efisien dan tidak
efisien. Sedangkan buktinya, sistem pertanian yang disebut sebagai yang
terbelakang, tradisional dan tidak efisien itu ternyata lebih bersifat
ekologis, tidak merusak alam.
sumber : http://juvita.blog.com/pertanian-modern/
http://www.academia.edu/4677864/Buku_pertanian_modern
Tidak ada komentar:
Posting Komentar